Kamis, 12 Oktober 2017

Melihat Keajaiban Setiap Hari

Ini surat cinta pop buat bidadari kecilnya di Facebook, penuh cinta dan sayang #ehmmaudongdikasihsuratcincauehcintrong

11 tahun lalu, kamu lahir ke dunia ini. Sulit untuk melukiskan kegembiraan Papa dan Mama, saat pertama kali melihatmu. Saking “happy” nya, Papa sampai lupa melantunkan adzan di kedua telingamu. Untung, Oma mengingatkan....
Alanis Nayla Ramadhani, nama itu pilihan kami berdua. Alanis diambi dari nama penyanyi Alanis Morisette. Kenapa, karena kami berdua fans beratnya. Nayla pilihan Mama. Kata Mama, artinya semoga semua yang kamu inginkan akan dikabulkan. Ramadhani dipilih karena kamu lahir pada bulan Ramadhan.
Papa dan Mama sama sekali tidak tahu cara membesarkan anak. Karena itu, kami langganan tabloid “Nakita” dari sebelum kamu lahir. Kalau kami kebingungan, tinggal tanya Oma atau Nenek, atau pakai cara kami sendiri.

Melihat perkembanganmu sejak lahir sampai sekarang,kami berdua takjub. Dari bayi yang beratnya hanya 2,4 kilogram, sekarang kamu sudah bukan lagi anak-anak, tetapi sudah seperti anak gadis. Dari anak balita yang selalu minta dipasangin celana, sekarang kamu sudah tidur sendiri, di kamar sendiri.
Papa terharu ketika mengantar kamu untuk pertama kali ikut PAUD. Ketika anak-anak lain ditemani oleh salah satu orang tuanya di dalam kelas, kamu malah mengusir kami berdua.

“Papa sama Mama nunggu di luar aja,” ujarmu ketika itu.

Tak lama, kami berdua mendengar suara yang tak asing lagi dari dalam kelas. Ternyata, kamu – yang masih berstatus murid baru – dengan percaya diri maju untuk bernyanyi di depan kelas. 

Setiap hari bersama kamu, seperti melihat keajaiban dari Sang Maha Pencipta. Proses belajar balik badan, berjalan hingga berbicara, peristiwa yang tidak akan pernah bisa diulangi lagi. Menyenangkan melihat itu semua.

Kamu itu gak ada malunya. Kalau disuruh joget di depan orang, pasti langsung dilakuin. Itu yang bikin kamu terpilih jadi model Pampers, di umur 2 tahun 2 bulan. Hadiahnya lumayan, duit sama Pampers segambreng, semua tetangga kebagian wkwkwkwkwkwkw.
https://diarynayla.blogspot.co.id/2008/?m=1

Lewat kamu, Papa sama Mama belajar sabar. Karena, seperti anak kecil lainnya, kamu juga bandel, nakal, gak bisa dikasih tahu dan banyak lagi yang negatif. Tetapi, bagaimana pun, kamu kan anak kami, jadi yah harus sabar buat menghadapi semua itu.

Yang paling bikin kita sedih adalah ketika kamu sakit. Kamu sama sekali gak rewel kalau lagi sakit, tetapi justru itu yang bikin kita sedih. Dari anak kecil yang lincah dan gak bisa diam, tiba-tiba jadi pendiam. Apalagi ketika melihat kamu dirawat di rumah sakit pas umur 3 tahun. Gak tega melihat kamu menangis sat dipasang infus oleh dokter.

Tetapi, di saat sakit, kamu tetap bisa bikin kami tertawa. Ketika itu, kamu gak mau makan bubur yang disediakan oleh suster. Lalu suster tanya, kamu mau makan apa? Dengan cepat, kamu langsung jawab,” Za hut.”

Suster pun ikut tertawa, ketika kami kasih tahu kalau kamu mau makan Pizza Hut.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari ini, kamu sudah berumur 11 tahun, sudah bukan anak kecil lagi. Kamu sudah gak mau lagi Papa peluk dan cium. Padahal, kalau tidur kamu tanpa sadar selalu menjadikan Papa sebagai guling.

Alanis Nayla Ramadhani, kamu telah mengubah kehidupan kami berdua. Dulu, ada yang bilang, kalau punya anak tidak bisa bebas lagi. Ternyata, anggapan itu salah. Kamu justru sama sekali tidak membuat kehidupan kami menjadi terbatas.

Kamu tetap anak yang asik untuk diajak nonton ke bioskop, jalan-jalan ke mal, atau naik angkutan umum, angkot, ojek, bajaj, kereta api dan TransJakarta.......


Kami baru merasa, kamu telah membuat kehidupan kami menjadi jauh lebih berarti. Kami berterima kasih karena Allah SWT telah menitipkan kamu kepada kami berdua.

Suatu saat nanti, kamu akan hidup mandiri, mungkin kami berdua tidak akan ada lagi disampingmu. Tetapi, kami yakin, kamu bisa mengarungi samudera kehidupan ini dengan gagah berani, seperti yang sudah kamu perlihatkan kepada kami sejak kecil.

Selamat ulang tahun, Alanis Nayla Ramadhani. Semoga semua keinginanmu bisa tercapai, sesuai dengan nama yang diberikan Mama kepadamu. Amin Ya Rabbal Alamin. Terakhir, terima kasih buat Ragil Wikaningtyas buat cake excellent cookies yang enak. 
Kamu yg dulunya tergila-gila sama FROZEN, sama mama dipesenin cake ultah tema itu, Sekarang karena kamu lagi suka  sama Naruto dan istrinya Hinata Hyuga, mama repot repot pesan cake tema Hinata.

Love Nayla, Jakarta 12 Oktober 2017

Senin, 09 Oktober 2017

Kembali Sekolah, Bye Bye Kebodohan

Pasti banyak yang tidak tahu kalau permasalahan anak-anak putus sekolah paling banyak ada di pulau Jawa.

Bukan main-main, sekitar 60 persen dari kasus yang ada di Indonesia berserakan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Menurut Suhaeni Kudus atau biasa disapa Eni dari UNICEF Indonesia bidang education specialist ini, Brebes, Jawa Tengah jadi pilihan  karena kebetulan bekerja sama dengan pemda setempat untuk mengadvokasi data tentang anak-anak yang putus sekolah.
Suhaeni Kudus Educatin Specialist UNICEF  Indonesia
Selain Brebes,  program pendanaan lanjutan dari UNICEF "Kembali Ke Sekolah" memilih Mamuju, Sulawesi Barat, yang besar kemungkinan nantinya diperluas ke Bone dan Takalar, Sulawesi Selatan.

Rencananya  akan dibantu sekitar 5000 anak usia sekolah untuk mendaftar ulang atau mendaftar untuk pertama kalinya agar bisa tetap sekolah.

Hai hai tunggu dulu, sebelum berpanjang lebar, kegiatan UNICEF ini didukung penuh oleh Philips Lighting. 
Tanggal 3 oktober 2017 kemarin Philips Lighting sebagai pemimpin dunia dibidang pencahayaan, melanjutkan komitmennya untuk melanjutkan kemitraan multi tahun untuk anak-anak dengan UNICEF dalam mendukung pendidikan di Indonesia.
Ki-Ka: Country Marketing Manager Philips Lighting Indonesia Lim Sau Hong, Country Leader Philips Lighting Indonesia Rami Hajjar, Deputy Representative UNICEF Indonesia Lauren Rumble dan Chief of Partnership UNICEF Indonesia Gregor Henneka
Masih menurut Eni, Kenapa sih UNICEF masih mau repot-repot dan fokus soal pendidikan, karena Indonesia nomer 4 terbesar untuk sistem pendidikan di dunia.

Kendalanya, orang tua sang anak belum merasa ada manfaat pendidikan untuk jangka panjang, kurang motivasi dan perlu ekstra keras untuk meyakinkan mereka bahwa sekolah itu penting.

Hal senada juga dikatakan praktisi pendidikan dari Kampus Biru Cikal, Bukik Setiawan, banyak orang tua yang berpendapat tidak perlu sekolah, yang penting bisa kerja dan bantu orang tua.

Jadi untuk mereka efek jangka panjang tidak kelihatan langsung. Ibarat berenang mereka hanya bisa mengambang di air tapi tidak bisa menyeberang lautan.

Dan dengan adanya program Back To School UNICEF terlihat 75 persen sekolah tidak memenuhi standart pendidikan. 
Praktisi pendidikan Bukik Setiawan
Menanggapi dua  pembicara diatas, Lauren Rumble, Deputy Representative UNICEF Indonesia mengatakan, dukungan Philips Lighting untuk program “Kembali ke Sekolah” akan membantu menyediakan akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak.

Bantuan ini nantinya akan meningkatkan peluang mereka untuk lepas dari kemiskinan, memperoleh pekerjaan, tetap sehat, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat di masa depan. Sektor swasta dapat membuat perubahan nyata dalam kehidupan anak-anak ini.
Lauren Rumble, Deputy Representative UNICEF Indonesia
Philips Lighting yang sejak lama punya program pengentasan kemiskinan lewat pendidikan menyambut baik ajakan UNICEF.

Seperti yang dikatakan Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia, Philips Lighting percaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi dan kontribusi sosial Philips kepada masyarakat. 

Tantangan pendidikan yang dihadapi anak-anak Indonesia adalah tanggung jawab kita semua, dan hanya dengan bekerja sama, kita dapat membuat perubahan.
Rami Hajjar, Country Leader Philips Lighting Indonesia
Untuk itu sebagai bagian dari kampanye Terangi Masa Depan, Philips Lighting Indonesia menargetkan untuk dapat mengumpulkan dua miliar rupiah dari penjualan paket Philips LED khusus berlogo UNICEF mulai bulan Oktober 2017 hingga Maret 2018. 

Philips Lighting Indonesia akan menyisihkan 2.000 rupiah dari setiap pembelian paket bohlam LED “Beli 3 Gratis 1” berlogo UNICEF. 

Jumlah uang yang berhasil dikumpulkan akan digunakan untuk melanjutkan pendanaan program UNICEF "Kembali ke Sekolah" di kabupaten Brebes (Jawa Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), serta diperluas ke Bone dan Takalar (Sulawesi Selatan).

Yuuk sebagai konsumen kita dukung program UNICEF "Kembali Ke Sekolah" dengan ikut membeli dan memakai paket bohlam LED lampu Phillips berlogo UNICEFF. Lampunya selain tahan lama, tidak membuat mata kita lelah.

Rabu, 04 Oktober 2017

Putri Matahari Favorit Kita Berdua

Hai hai sayangku, kali ini kamu pentas jadi bunga matahari ya. Kostumnya pasti Kuning, ngecrong dong. 

Namarina memang minimal 1 kali pentas dalam setahun.  Rempongnya sama dengan dulu, tidak boleh bolos lesnya, latihan gabungan di  cabang sekolah balet Namarina lainnya.

Plus juga latihan bersama di gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan. Nayla sih senang-senang saja porsi latihannya ditambah apalagi disana ada yang jual  sosis dan kentang yang katanya super duper uenaaaak.

Berbeda denga tahun lalu, kali ini Nayla dan 3 teman lainnya yang sama-sama di grade satu, terpilih untuk menari juga di finale alias ikutan balet di  penutup pertunjukan.

Karena 4 anak ini memang pada saat bersamaan dengan pentas, juga mengikuti ujian kenaikan tingkat menjadi Grade 2, jadi kesibukan dan lelahnya dua kali lipat.

Gimana dong dengan emak bapaknya? Kita juga cape juga dong ya hi…hi… tapi mengingat anak-anak ini lebih cape tapi tetap semangat ya kita juga semangka…. Semangat kakaaaaa.

Latihan tiap minggu, latihan gabungan, sampai akhirnya gladi kotor tanggal 16 september2017,  Ketika baju pentas di bagikan.
Seminggu kemudian, tepatnya hari sabtu tanggal 23 September 2017, kita Gladi resik di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Mardjuki TIM.

Gladi resiknya saja sudah heboh, walaupun yang boleh masuk hanya satu orang, pop yang memilih untuk menunggu diluar.
Dan lebih serunya lagi gw ketemu Bonny yang baru beberapa hari lalu pulang dari naik haji, Danila anaknya kebagian gladi resik dan pentas jam 2 siang.
And D dayyyyyy 24 september 2017, kali ini mereka sudah gak boleh lagi salah di panggung, karena kita para orang tua, sudah kumplit hadir untuk melihat mereka menari balet.

Begitu masuk gw baru tahu ternyata kita dapat bangku paling depan, yaaaaay gak perlu kacamata ini sih. 
Pas  pentas di hari H-nyanti kita dilarang untuk foto-foto (nanti kita bisa beli video pentasnya kumplit di Namarina).  Sukses deh anak-anak ini menghibur orang tuanya selama 1 jam 10 menit.

Seminggu kemudianNayla menerima sertifikat kelulusannya dia dari grade 1 ke Grade 2, yaaaay, selamat ya nak. Semangat terus latihan.

Jumat, 29 September 2017

Memimpikan Bangku Khusus Anak-anak di Kereta Api

Kereta api itu selalu membius anak kecil ketika pertama kali melihatnya. Nayla, anak saya juga begitu, dia takjub melihat dan menaiki benda seperti ular berjalan melintas di rel.

Itu dulu ketika dia baru berumur 4 tahun. Sekarang, setelah umurnya 10 tahun, apakah tetap suka kereta api?  Ternyata tetap suka, walau pun kadang kami pergi dengan kereta kelas bisnis.
Kepinginnya sih KAI menyediakan alat gambar ukuran mini untuk anak-anak, biar mereka tidak jenuh selama 3 jam atau bahkan kadang 10 jam berkereta.

Selama ini saya memang membawa alat gambar atau tulis, hingga buku cerita ketika bepergian. Kebayang gak kalau ini ketinggalan dan tiba-tiba anak saya merasa bosan di kereta.

Nah kalau Commuter line, Nayla juga punya pengalaman menyenangkan ketika ke Bogor bersama teman-temannya.  Walaupun harus berdiri berdesak-desakan diantara orang dewasa.

Tapi dia sempat bilang, “Coba yang buat gelantungan gak tinggi ya, Nayla bisa pegang sendiri”. Selama ini pegangan atas hanya untuk orang dewasa, padahal anak-anak juga banyak lo yang tidak diberikan tempat duduk.
Atau misalnya ada bangku sendiri khusus untuk anak-anak yang dudukan bangkunya lebih rendah, mencegah  orang dewasa untuk nekat duduk disitu.
Harapan dan impian ini semoga terwujud, apalagi Kereta Api Indonesia KAI sudah 72 tahun berkiprah di perkeretaapian Indonesia.

Sesuai salah satu pilar penting perusahaan yaitu  kenyamanan, maka KAI tentunya terus memberikan yang terbaik kepada setiap pelanggannya.

Yang membuat saya kagum, KAI mampu mengangkut 1 juta orang perhari wooow. Seandainya semua orang mau menggunakan moda transportasi ini, kemacetan di jalan raya bisa berkurang.

Selamat ulang tahun ke 72 Kereta Api Indonesia, maju terus kami tunggu kejutan-kejutan menyenangkan darimu ya.

Jumat, 22 September 2017

Mama, Aku Dibully

Yuk mulai sekarang ajarkan anak kita untuk berani cerita apapun kepada orang tuanya, cerita sedih atau pun senang. 

Untuk kali kedua nih saya menulis soal bully. Sejak penulisan pertama saya mulai mengganti tagar saya di sosial media ketika memposting foto anak saya, dari yang awalnya #ilovenaylambem menjadi #ilovealanisnaylaramadhani.

Panjang ya tagarnya😀,  kalau pakai kata cantik nanti ada yang protes, "halooo anak saya lebih cantik tauuuu", hi...hi... Serta berpesan pada suami saya untuk melarang teman kantornya memanggil anak saya dengan nama suami.

Kok bisa? anak perempuan saya ini mukanya seperti pinang dibelah dua dengan suami saya (bukannya biasanya begitu ya, anak perempuan mirip ayah). 
tu kan mirip
Buat saya saat ini, panggilan-panggilan seperti itu adalah bully kecil-kecilan dari orang dewasa.  

Serius amat sih mak, ho...ho...soalnya habis dapat pencerahan dari Vera Itabiliana Hadiwidjojo pakar psikolog untuk anak dan remaja di acara Ghatering Kumpulan Emak Emak Blogger dan #SinarmasMSIGLife tanggal 9 September 2017 kemarin, dengan tema "Menyikapi Bullying Pada Anak"
Vera itabiliana hadiwidjaja
Orang Dewasa Pelakunya

Biasanya orang dewasa tidak sadar melakukannya, ketika mereka memanggil Ndut... Mbem... Pesek. Saya dulu salah satu yang tanpa sadar ikut melakukannya.

Lucu-lucuan pastinya tanpa bermaksut menyakiti, lah wong saya sendiri sempat bikin tagar dengan kata mbem. Kadang anak saya protes dengan bilang "iiih mama", maaf ya nak.

Jadi sedih membayangkan perasaan mereka, ketika mereka dijawil pipi atau perutnya sambil bilang iiih ndut banget. 

Saya biasanya selalu protes, kalau ada yang bilang begitu ke anak saya, "Maaf ya mam, Nayla gak suka dibilang ndut". Apalagi saya lihat muka Nayla cemberut sambil berjalan pergi.

Trus bagaimana bila pelakunya guru yang seharusnya ikut bertanggung jawab menghentikan bully di sekolah?.

Misalnya mengatakan anak ini mungkin anak berkebutuhan khusus, ketika melihat muridnya pendiam sekali di sekolah. 

Atau memberi panggilan dengan nama tokoh film tertentu yang kebetulan gendut, tembam dan plontos kepalanya. Ini pertanyaan yang khusus saya ajukan di acara ghatering tersebut.

Menurut psikolog cantik ini, guru boleh-boleh saja mengatakan anak muridnya ABK (anak berkebutuhan khusus), asalkan sudah melakukan observasi menyeluruh setelah merujuk anak tersebut ke psikolog, terapis dan neurolog.

Tapi jangan lantas memberi label anak itu dengan ABK seperti Autisme dan Hiperaktif.

Intinya, jangan gampang menilai dan memberi label kepada seseorang, apalagi tidak berkompeten untuk bicara soal itu. lebih baik fokus pada cara menangani kesulitan anak tersebut di sekolah. 
Pelakunya Teman Sebaya

Nah Anak-anak seperti ini menurut vera,  awalnya iseng, merasa memiliki kekuatan yang lebih dibanding  anak lain, senang dapat perhatian karena kelakuannya  dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.

Menangani anak seperti ini pelaku dibiasakan minta maaf kepada korban dan orang tua korban.  Dia harus tahu banyak pihak tersakiti. 

Vera menegaskan,  rumah adalah fondasi untuk memproteksi terhadap timbulnya bullying pada anak. 

Seperti penerapan pola asuh, manajemen emosi, empati (anak akan berlaku sama dengan yang dia terima), bangun pertemanan,  cara menyelesaikan konflik dan sikap asertif. 

Yaitu suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang dirasakan,  dipikirkan dan diinginkan kepada orang lain. Namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak dan perasaan pihak lain.
Menurut Vera, colek gengsi anak. Bahwa yang dilakukan pelaku bully itu, cara atau kelakuan yang paling rendah, jangan ditiru, lakukan hal yang cerdas.

Siapa Saja Yang Jadi korban 

Semua bisa jadi korban. Biasanya korban tidak percaya diri, takut disalahin, yakin tidak ada yang menolong, lebih parah lagi tidak sadar kalau jadi koban.

Contoh yang paling gampang, kita masih ingat dong ya, ketika masih kecil, nama bapak kita di jadikan nama panggilan dan lebih beken ketimbang nama kita.

Padahal itu termasuk tindakan bully lo, tapi kita tidak sadar bahkan kadang ikut-ikutan. Dan sampai sekarang masih terjadi.

Akibat Bully

Ketika menulis ini saya jadi sedih lagi, karena teringat anak saya pernah mengalami ini, di bully kecil-kecilan.
https://diarynayla.blogspot.co.id/2017/08/?m=1

Bully ini jahat dan efeknya berbahaya sekali untuk si korban. Mereka bisa berhenti sekolah, harga diri buruk bahkan korban bisa bunuh diri.

Dari data KPAI komisi perlindungan anak Indonesia, ada 67 kasus bully terhadap anak, menurut Vera, ini hanya kasus-kasus besar. 

Terjadi peningkatan pada tahun 2015, menjadi 97 kasus besar.
http://www.kpai.go.id/berita/mengejutkan-bullying-di-sekolah-meningkat-jadi-perhatian-serius-jokowi-dan-kpai/

Di penghujung seminar, pakar psikologi anak dan remaja Vera Itabiliana hadiwidjojo memberikan nasihat yang bagus, kebetulan saya sudah terapkan di rumah sejak lama. 

Beritahu anak anda bahwa dia bisa bercerita apapun kepada orang tuanya, biasakan untuk memeriksa badan anak, dengan cara memeluk, dipijat sebelum tidur sehingga bisa diketahui bila ada yang janggal pada tubuh anak,  seperti memar atau luka.

Karena ada anak yang tidak berani bercerita atau menganggap itu luka biasa karena tidak sakit,  padahal habis ditendang temannya. 
Jangan lupa juga ya mengajarkan anak untuk membantu temannya bila melihat ada temannya yang di bully, minimal bisa memberitahu, guru atau orang tua korban. 

Melihat Keajaiban Setiap Hari

Ini surat cinta pop buat bidadari kecilnya di Facebook, penuh cinta dan sayang #ehmmaudongdikasihsuratcincauehcintrong 11 tahun lalu, k...